Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

rumah usang peneduh sang penglipur lara


Menjengah keheningan yang mengendap dalam kelam
membiarkan perasaan hanyut tidak terkatakan
seperti waktu yang diam berlalu
mengaburkan segala kisah-kisah
juga memudarkan bagai tinta
di halaman buku tua yang terlanjur basah

Buku tua punyai lembaran kisah yang mengungkap setiap labirin waktu
Lembaran - lembaran menyelak longlai disapa bayu lalu
terhenti pada sebuah bab yang menceritakan tentang sebuah ruang usang
Ruang itu berdiri atas nama adunan memori sebuah diorama

Bab itu bercerita tentang sebuah rumah tua cuba memayungi
Payung yang tercipta punyai sejarahnya tersendiri
Sejarah yang bertopengkan mainan kata bak madu diraja
Kerangka payungnya terbina dari helaian
hati yang dihiris pengkhianat sang penglipurlara

Sebuah diorama yang dimainkan oleh bayang penglipur lara
Sebuah cerita yang tidak dimulai dengan awal maupun akhir
Bayangan disana dengan berbagai latar dan berbagai spektrum cahaya yang
bernama kelabu
Pemandangan itu beku dengan tangan-tangan yang terulur terlalu tinggi
Bayangan itu berdiri dengan eksistesi diri namun buta, tak mampu melihat pun merasakan
Bayangan itu mengelilingi hanya menjadi jasad penggembira tanpa mengerti esensi dari sebuah
pelipur lara

Para penglipurlara bersembunyi dibalik perangai mereka yang semu
Mereka yang pernah menawarkan hati dan jiwa, bertekuk lutut dan mencium tanganmu
Mereka yang terlalu banyak bermain dengan api pernah luruh dan mencari
keberadaanmu

Bab ini bercerita tentang Rumah tua dengan hamparan yang meluas
Rumah yang mengatas namakan estetika, keteduhan, dan kelapangan
Sebuah rumah yang menghadirkan kelegaan, kelapangan dan harmoni
Di rumah itu para penglipurlara bertelut
di rumah itu ia lepaskan segala kemelut
Sekian lama ia mencari dan berkelana akhirnya berhenti setelah jiwanya mati
Hidupnya dirasakan sempurna
setelah menanamkan ceritera-ceritera
yang mula dipahat pada bongkah akal yang kecetekan
Sang pembaca mengakui dan membuntuti
aduhai sang penglipur lara aduhai sang pembaca..

Mereka yang terliku dan terlibat di dalam setiap kisah dari sekat kehidupan
Mereka yang merangkak bersama dan hadir dari berbagai sudut yang tak berbatas
Mereka yang seketika mengisi keping-keping jelaga dan yang pernah menjadi jelaga
Mereka adalah bingkisan yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang tak sempurna
Bukan sebagai pelengkap, bukan juga sebagai penggembira
Namun sebagai bahagian utama dari kisah kehidupan
dan dibalik lamunan terbersit cerita

Cerita teranjut angan dalam tiap lembaran otak yang menjemukan
terbujur kaku, lemah melepas setiap simpul kepenatan
mimpi takkan mampu menjadi nyata sebelum terbangun,
walau tersadar adalah sesuatu yang tiada beda makna
lalu aku mengedip mata pada tiap angin yang berbisik
pada tiap tetes hujan yang menyimbah dunia
dan setiap kilasan cahaya di jalanan
ku susun abjad merenda kata
kata yang mengungkapkan
sebuah tanya tanpa jawab...

KELIBAT TEMAN

Bagaimana teman bisa dekat setia
Pabila engkau mengasari
Bagaimana simpati bisa mencurah
Pabila engkau merendahkan

Bagaimana percaya bisa hidup
Pabila engkau menghukum lagak kau lah yg sempurna
Bagaimana ikhlas akan menunjang
Pabila buruk sangka senyap menjalar di hati
Bagaimana hati bisa selalu terjaga
Pabila engkau berkata-kata yg meluka

Walaupun tidak sempurna
Setiap masa payah jerih mencuba
Selalu mengeluh akan situasi yang tiba bergelora
Tuhan adalah Teman saksi nyata

Wahai kawan
Kasihanilah jika engkau ingin dikasihani
Janganlah menghina
Janganlah manis di-depan belakang di-umpat
Janganlah beristighfar bila terkelibat
Aku, Engkau,Dia, dan Mereka — manusia yg punya rasa & mata
Mungkin kau tidak nampak
bila aku menahan hati yang sebak
melihat rangkaian gelora
melambungkan para rasa hati yang tamak
yang kau kejar itu tidak bernilai bagiku
Aku hanya ingin kembali kepada diriku
Jangan sakiti tanpa sebab yang waras
Kerana aku sangat letih

Harus diingat
ia selalu hadir dalam kehidupan kita
baik itu senang atau susah
tak perlu berkata ia pasti mendengar
semua cerita akan tercampur dengan bumbu kisahnya

Menegur kala kita salah mengambil langkah
menyokong kala kita mengangkat satu keputusan
bertanggung jawab walau tak ikut menyebabkan
meniupkan hawa kedamaian kala kita terbalut dalam emosi
selalu seperti itu hingga takdir memisahkan

lahar..diri..merapi..dalam..sunyi


Assalamualaikum..

Tak ingin lagi
aku lontarkan
api marah
yg terpendam di dalam hati
jika terluah
pasti membakar
jiwa-jiwa mereka
yang tiada sabar

Tak mungkin aku

sanggup menghunus
keris kata-kata yang bisa
menusuk ke dada mereka
walau ku mampu
membalasnya

Sesungguhnya aku

diam dan menyepi
hanya berperang-perang
di dalam hati
cuba melawan nafsu bertingkat
yang mengujiku saban waktu
tanpa tinggalkan
satu titik nokhtah

Puas aku berfikir-fikir

ke mana arah hendak kutuju
memadamkan lautan
api amarah ini
dengan selaut air damai yang tenang
atau curahan api bernyala-nyala?

Tak akan aku biarkan

gunung gelora dendam
membara semula
kerna ia
pasti meletus
bila sabar
telah tiada lagi nilai

Mujurlah 2 tangan ini
masih tidak kulupa gunanya
menadahkan ke langit setiap masa
mengharapkan YG DI ATAS
memberi titik nokhtah
barisan ayat-ayat amarahku ini
dgn hikmah wal hasanah

saat aku menulis..

Saat aku mula menulis
tulisanku hanya dari hati
yang kutulis dgn caraku sendiri
walau ada yang memandang sepi

Saat aku menulis
ayatku penuh irama dan puitis
saat ku bicara, bicaraku jelas berbeza
ada nilai di sebaliknya
ada maksud yg kupinta
digali sedalam-dalamnya
hanya ku pohon darimu
fahamilah dengan seikhlas hati
bukan sekadar telahan emosi

Saat aku menulis
hatiku benar-benar tulus
menyusun kata-kata
memanggil jiwa-jiwa
membacanya
bukan menyulitkan pemikiran
apatah lagi mencipta kekalutan
menghapus perhubungan

Saat aku menulis
aku mencari satu kepuasan
mencipta ketenangan
meluahkan ilham dan perkongsian pemikiran
anugerah dari tuhan
bukan pada semua insan
kecuali yang sudah ditentukan 

## @kUbuKaNbuD@kBluE$ ##

PeDuLi aPA?


Aku peduli apa
ketika memulai langkah kiri
tatkala afdal kanan yang dicari
padaku ia juga sepasang kaki
sekurangnya aku tidak terus berlari
mengejar mimpi yang tidak pasti
aku tidak ingin rebah
calar walaupun tidak berdarah.

Peduli apa aku
pada jarak sepanjang ruang
yang merentang
selangnya adalah peluang
kerapnya kita terlupa
menggali makna dalam diri
pada kekayaan kata
pada madah ulas bicara
hidup merangkaikan payah
tiada menjanjikan mudah.

Apa aku peduli
pada sebuah aturcara
sedangkan hidup adalah perjalanan sendiri
walau ke mana kaki melangkah
tetap ada rimbunan untuk ku berteduh
walau amat jauh
tetap aku harung tanpa mengeluh

Blogger Templates by Blog Forum