rumah usang peneduh sang penglipur lara
Friday, February 4, 2011 by akubukanbudakblues
Menjengah keheningan yang mengendap dalam kelam
membiarkan perasaan hanyut tidak terkatakan
seperti waktu yang diam berlalu
mengaburkan segala kisah-kisah
juga memudarkan bagai tinta
di halaman buku tua yang terlanjur basah
Buku tua punyai lembaran kisah yang mengungkap setiap labirin waktu
Lembaran - lembaran menyelak longlai disapa bayu lalu
terhenti pada sebuah bab yang menceritakan tentang sebuah ruang usang
Ruang itu berdiri atas nama adunan memori sebuah diorama
Bab itu bercerita tentang sebuah rumah tua cuba memayungi
Payung yang tercipta punyai sejarahnya tersendiri
Sejarah yang bertopengkan mainan kata bak madu diraja
Kerangka payungnya terbina dari helaian
hati yang dihiris pengkhianat sang penglipurlara
Sebuah diorama yang dimainkan oleh bayang penglipur lara
Sebuah cerita yang tidak dimulai dengan awal maupun akhir
Bayangan disana dengan berbagai latar dan berbagai spektrum cahaya yang
bernama kelabu
Pemandangan itu beku dengan tangan-tangan yang terulur terlalu tinggi
Bayangan itu berdiri dengan eksistesi diri namun buta, tak mampu melihat pun merasakan
Bayangan itu mengelilingi hanya menjadi jasad penggembira tanpa mengerti esensi dari sebuah
pelipur lara
Para penglipurlara bersembunyi dibalik perangai mereka yang semu
Mereka yang pernah menawarkan hati dan jiwa, bertekuk lutut dan mencium tanganmu
Mereka yang terlalu banyak bermain dengan api pernah luruh dan mencari
keberadaanmu
Bab ini bercerita tentang Rumah tua dengan hamparan yang meluas
Rumah yang mengatas namakan estetika, keteduhan, dan kelapangan
Sebuah rumah yang menghadirkan kelegaan, kelapangan dan harmoni
Di rumah itu para penglipurlara bertelut
di rumah itu ia lepaskan segala kemelut
Sekian lama ia mencari dan berkelana akhirnya berhenti setelah jiwanya mati
Hidupnya dirasakan sempurna
setelah menanamkan ceritera-ceritera
yang mula dipahat pada bongkah akal yang kecetekan
Sang pembaca mengakui dan membuntuti
aduhai sang penglipur lara aduhai sang pembaca..
Mereka yang terliku dan terlibat di dalam setiap kisah dari sekat kehidupan
Mereka yang merangkak bersama dan hadir dari berbagai sudut yang tak berbatas
Mereka yang seketika mengisi keping-keping jelaga dan yang pernah menjadi jelaga
Mereka adalah bingkisan yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang tak sempurna
Bukan sebagai pelengkap, bukan juga sebagai penggembira
Namun sebagai bahagian utama dari kisah kehidupan
dan dibalik lamunan terbersit cerita
Cerita teranjut angan dalam tiap lembaran otak yang menjemukan
terbujur kaku, lemah melepas setiap simpul kepenatan
mimpi takkan mampu menjadi nyata sebelum terbangun,
walau tersadar adalah sesuatu yang tiada beda makna
lalu aku mengedip mata pada tiap angin yang berbisik
pada tiap tetes hujan yang menyimbah dunia
dan setiap kilasan cahaya di jalanan
ku susun abjad merenda kata
kata yang mengungkapkan
sebuah tanya tanpa jawab...

